Senin, 06-juni-2011

Pagi ini ku awali hari dengan melaksanakan shalat subuh, lalu aku membersihkan tubuh dan memakai seragam sekolahku. Ini saat di mana aku menduduki kelas V sd, dan sebentar lagi sekolah kami akan mengadakan pembagian rapot tahunan yang akan menentukan siapa yang layak untuk naik kelas. Waktu pembagian rapot tinggal satu pekan lagi, aku sangat antusias! Namun.. ada konflik yang terjadi di keluarga ku, saat ini ibuku sedang hamil besar dan dalam waktu dekat ia akan melahirkan adik kecil ku, Nah yang menjadi masalah dalam keluarga ini adalah kondisi ayahku yang terbaring lemah karena penyakit yang di deritanya semakin bertambah parah.

 

Kringg~ [BEL PULANG SEKOLAH PUN BERBUNYI]

Aku pun segera meninggalkan kelas dan berjalan menuruni anak tangga lalu pergi ke pintu gerbang sekolah. Disana aku melihat kak sisil (kakak yang bekerja sebagai irt sementara di rumah kami) telah menjemputku. Aku sedikit kecewa karena yang biasa mengantar-jemputku ke sekolah adalah ayah. Namun karena kondisinya yang sedang sakit-sakitan aku pun hanya bisa berdo’a meminta kesembuhan untuknya. Sesampainya di rumah, aku heran karena tak menemukan ibu dan ayah di se-isi rumah kami. Aku pun bertanya pada kak sisil kemana pergi nya orang tua ku, “anu dek, ibu dan ayahnya adek udah berangkat sejak siang tadi, di temani sama om setyo (adik ibuku)” jawab kak sisil. Aku pun mengangguk seolah faham dengan penjelasan singkat tersebut, setelah percakapan singkat itu aku tak banyak bicara lalu menghabiskan sisa hari ku di kamar.

 

Keesokan harinya

Selasa yang cerah, hari ini kami mendapatkan kabar dari bude yuni (kakak kedua ibu) bahwa ibuku telah berhasil melewati operasi caesarnya dengan selamat, yup! Tepat pada 07-juni-2011 ini anak bungsu dari org tua ku pun telah lahir ke dunia. Anak yang di lahirkan ibuku berjenis kelamin laki-laki, sementara ayahku… ia sedang bertahan melawan penyakitnya di kamar sebelah tempat ibuku di rawat. Kondisi laki-laki dengan umur 38 tahun itu pun semakin memburuk, dan ia harus mendapatkan perawatan lebih lanjut dari pihak rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 12.00, ayahku meminta izin agar ia bisa meng-adzankan putra bungsunya yang baru lahir. Setelah menyelesaikan kegiatannya dengan adikku, Ayahku pun di bawa kembali ke kamar tempat ia di rawat.

 

Sabtu, 11-Juni-2011

Aku terkejut sekaligus senang melihat kepulangan ibu dan adik kecilku ke rumah kami. Namun.. aku juga heran, mengapa sosok lelaki bijaksana dan tegar itu tak kunjung hadir kembali ke rumah

ini? Beribu pertanyaan tanpa jawaban melayang di fikiran ku. Aku terdiam sejenak, kemudian teringat sesuatu dan pergi menuju kamar untuk membereskan buku-buku yang berserakan di meja belajarku. Tak lama kemudian.. datang lah nenek, bude inem, bude yuni, dan dio (adik pertamaku) ke kediaman keluarga kecil kami. Kemudian nenek dan anak-anak nya yang lain berbincang mengenai kesehatan ayahku, samar-samar aku mendangar bahwa ayah telah di bawa ke rumah sakit royal prima, ibu ku harus menyusulnya kesana dan dengan terpaksa harus meninggal kan si kecil. Ibu pun berangkat bersama om satyo untuk menyusul ayah, ayah telah sampai di medan dan ia langsung di aman kan ke ruang oprasi. Tak lama ibu pun sampai di sana, alhamdulillah oprasi berjalan lancar, 11,12,13 juni ayah di rawat di rumah sakit medan.

 

Di tanggal 12 ibu dan om satyo sempat kembali ke rumah untuk memberi asi pada bayi kecil nya. Saat di perjalanan menuju rumah sakit di mana ayah di rawat, ibu mendapat kabar dari teman nya yang merawat ayah, bahwa saat ini allah berkehendak lain. Dan akhirnya 13-juni-2011 adalah hari dimana kami kehilangan sosok yang begitu berarti dalam hidup. Ibu sangat sangat terpukul, ia hanya bisa menangis dan diam. Begitu juga om satyo, ia hanya diam. Tak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka, karena ayah telah tiada, om satyo memutuskan tuk kembali ke kediaman keluarga kecil ibu. Selama perjalanan ibu hanya menangis, lalu om satyo mengingatkan untuk mengabarkan pada nenek bahwa ayahku telah tiada.

 

Senin, 13-juni-2011

hari dimana bagi rapot di langsungkan. Pagi itu aku bermalas-malasan tuk pergi ke sekolah, namun kak sisil meyakinkanku bahwa hasil rapot ku tak jauh dari usaha belajar ku semasa ujian. Karna sudah selesai sarapan, aku pun mencari kaos kaki ku ke kamar, tak sengaja aku mendangar nenek ku terkejut. Aku yang penasaran pun mencoba mendengar kan percakapan mereka dari celah pintu kamar tersebut. “seng sabar yo ndok” ucap nenek di telefon, ntah siapa yang berbicara dengan nya di seberang sana, aku pun tak tau. “kowe ora iso koyok ngene ndok, uwes, ojo di ratapi” ucap nenek ku kembali, aku pun semakin penasaran! “kowe iso ndok.. lewati iki semua, kowe iso” lanjutnya dengan suara gemetaran. Sampai pada akhirnya “kenopo toh mak?” tanya bude inem pada nenek, “nem, bojone adek mu nem” “kita harus ikhlas” “adekmu kuat nem” jawab nenek ku terbata-bata. “mamak kenopo toh?” kini bude yani yang gantian bertanya, “ayahnya dio udah ga ada,kita semua harus ikhlas, ayahnya orang baik makanya allah panggil duluan” jawab nenek terus terang. DEG!

 

Rasanya oksigen yang tersedia di muka bumi ini sirna seketika, sesak pun mememenuhi dada, tubuh pun terasa tak berdaya, lantas bagaimana cara agar tak meneteskan air mata??aku lemas, tak tau harus merespon seperti apa, aku bungkam seketika, keinginan tuk hidup rasanya sudah tiada. Bagaimana bisa? Orang yang begitu berjasa di panggil secara tiba-tiba, tanpa mengucapkan salam perpisahan dengan indah, Rabbi… apakah seberat ini? Sahancur ini kehilangan? Bagaimana aku bisa menerima semua ini ya rabb?! Bagaimana?!!

 

Ayah pun tiba ^maaf maksudnya^ jenazah ayah pun tiba di rumah orang tua nya (kakek ku), ia di baringkan di atas kasur empuk milik ibunda tercintanya. Di saat aku datang dan kemudian memasuki pintu rumah kakek, banyak pasang mata yang sendu memandang kehadiran ku. Tak lama pandangan ku terkunci pada sosok yang tak asing, yup! Dia adalah laki-laki yang sangat amat ku tunggu

kepulangan nya dari rumah sakit, laki-laki yang hadirnya slalu ku nanti-nanti, laki-laki yang nama nya slalu ku sebut di sujud terakhirku tuk memohon kesembuhan, laki-laki dengan luka terhebat yang ia tutupi dengan senyumnya, laki-laki yang mendidik ku penuh kasih sayang, laki-laki yang amat sangat siaga ketika aku membutuhkan nya. Orang pertama yang marah lalu bertindak ketika putri kecilnya di ganggu, dan ia juga orang pertama yang melindungi putri kecilnya dari hal-hal negative, dia lah ayah.

 

Di saat itu, ayahku terlihat sangat tampan! Dengan wajah pucat nya, bibir biru nya, pakaian sederhananya, ia terbaring lemah diatas kasur empuk kesukaan ku milik si nenek. Sosok tegas nya, bijaksana nya, humoris nya dia, hilang seketika. Ntah apa yang membuat ku tak percaya, bahwa sosok terhebat ku telah tiada, namun saat itu rasanya semua benar-benar tak terduga, dan semua seolah rekayasa.

 

Hari yang seharusnya ku nanti seperti murid pada umumnya kini sirna. Aku benci tanggal 13, aku benci pembagian rapot tahunan, aku benci bulan juni. Semua ini begitu menyakitkan ya rabb, mengapa harus secepat ini?! Aku melihat ke sekeliling, semua mata mengeluarkan air nya, semua mulut mencoba menahan suara isakan yang tambah membuat suasana ini semakin menyedihkan. Hari ini, pertama kali nya aku melihat ibuku menjadi wanita terlemah, menjadi wanita cengeng yang tak dapat menyembunyikan sedihnya, menjadi wanita paling hancur hatinya, aku tak tau bagaimana harus menguatkan ia, karna sejujurnya aku pun membutuhkan bahu tuk disandari.

 

Aku duduk di sebelah jenazah ayah, ku usap lembut tangan kasarnya, ku kecup halus kening nya yang sudah mulai terasa dingin, ku sentuh perlahan pipi nya yang memucat, ku peluk hangat tubuh kekarnya yang kini telah sedikit kaku, semua kulakukan tanpa tangisan, namun ternyata semua kesedihan yang ku tahan tak mampu lagi untuk ku simpan sendiri. Kenyataan nya sedikit demi sedikit bulir-bulir bening telah turun dari sepasang mata milik ku, Kebohongan terbesar yang pernah ku lakukan adalah berpura-pura tetap terlihat baik-baik saja padahal diri dan hati ku sedang porak-poranda.

 

Waktu terus berjalan, dan kami juga harus melaksanakan fardhu kifayah ayahku. Eh mau tau ga? Selesai di mandiin ayahku ganteng banget lho! Ya walaupun pucat tapi ganteng nya tetap keliatan. Wajah nya seperti bersinar gitu engga kusam sama sekali, padahal selama hidup nya ayah ga pernah pake skincare, dia cuma rajin wudhu aja. Kafan adalah pakaian terakhir yang ia pakai sebelum masuk ke peristirahatan terakhir. Aku sangat suka wangi kapur, karna itu wangi terakhir yang aku cium di tubuh ayah. Setelah selesai dimandikan dan di kafani, ambulance membawa ayahku menuju masjid untuk di shalat kan jenazahnya. Aku sangat terkejut! Karna masjid yang akan kami gunakan ternyata tidak cukup untuk menshalatkan jenazah ayahku.

 

Selesai di shalatkan, kami mengantarkan jenazah ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jujur, aku sangat terpukul dan hancur, bagaimana mungkin tidak?! Aku mengantarkan nya ke tempat dimana kami tidak akan bisa bertemu lagi, tempat dimana yang bisa mendengarkan curhatan ku hanya ia seorang, tempat dimana hanya doa ku bisa meringankan dosa dosanya, tempat yang

siapapun pasti tidak ingin tinggal di dalamnya. Aku menyaksikan tubuh ayah di angkat dan di letakkan dengan perlahan ke dalam liang kubur, seorang adik dengan tangis nya perlahan menutup tubuh ayah ku dengan papan papan kayu. Satu demi satu papan itu di susun sampai benar benar menutup sekujur tubuh ayahku yang mulai memucat.

 

Sedikit demi sedikit tanah kembali di jatuhkan ke lubang yang telah di isi oleh tubuh ayahku, tanah tanah itu kemudian di tekan perlahan lahan hingga padat, di tumpuk sedikit demi sedikit hingga membentuk tumpukan tanah kuburan, lalu hiasan terakhir yang melengkapi hancurnya aku di hari itu adalah nisan. Dengan jelas aku bisa melihat nama ayah kini terukir disana, dengan tanggal kelahirannya, dan nama sang kakek yang di tulis setelah nama ayahku, aku sangat tidak percaya bahwa 13-juni menjadi hari paling menyakitkan di hidupku.

 

Setelah selesai melaksanakan semua rangkaian fardhu kifayah, aku kembali ke rumah ibunda ayahku. Aku melihat ibuku masih di tenangkan oleh kakak kakaknya, seuasana di rumah itu juga masih sangat berduka. Sore harinya kami kembali ke kediaman ibuku, karna putra bungsu nya harus di berikan asi.

 

Lambat laun aku mengerti, mengapa ayah harus pergi, aku pun bisa menerima kenyataan yang pedih ini. Allah maha tau, dia yakin hambanya mampu, dan allah slalu ada di saat kita butuh. Sekarang aku mengerti bahwa setiap yang datang pasti akan pergi, setiap air yang pasang pasti akan surut, setiap yang terbit pasti kan tenggelam, dan setiap yang bernyawa pasti kan menemui sang pencipta.

 

Ini lah scenario sang maha kuasa

Tak bisa di tebak, dan tak pernah kau duga

Bisa saja kematian telah di depan mata

Dia lah allah, sang pencipta.

NAMUN PERCAYALAH

ALLAH TAKKAN SEMATKAN LUKA,

TANPA BAHAGIA SETELAH NYA.

 

 

Sekian cerita dari saya,

Follow me on @dhrakntn