Bayangkan kita sedang berada di tengah sawah. Sedang duduk santai di atas gubuk kayu. Angin sepoi-sepoi bertiup santai. Menggoyangkan bulir padi yang merunduk. Apa yang terjadi selanjutnya? Kemungkinan besar kita akan mulai mengantuk atau setidaknya menguap.

Menguap adalah peristiwa refleks yang tidak kita sadari (involunter). Kondisi ini menyebabkan mulut kita terbuka lebar disertai masuknya udara yang lebih banyak menuju paru-paru. Udara tersebut kemudian keluar secara perlahan dari sistem pernapasan. Selama periode ini maka mata akan tertutup dan gendang telinga kita menegang.

Tapi, percayalah teman-teman bahwa menguap dapat menular? Persis seperti COVID-19, menular juga memiliki konsep menular. Meskipun dalam pikiran kita telah tertanam kepercayaan bahwa “menular” memiliki makna khusus yang berhubungan dengan ilmu kesehatan dan biologi. Namun, proses tanda-tanda mengantuk ini telah memiliki aspek sosial dimana dapat terjadi antara pribadi yang saling berdekatan. Penularan menguap ini telah terdokumentasi dengan baik, tetapi sulit untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Mengapa Menguap Menular?

Menguap ternyata berdampak besar. Hanya karena membaca beberapa kata menguap yang telah kami tuliskan di atas, teman-teman mungkin akan menguap beberapa menit ke depan. Bahkan ketika kami menulis artikel ini dari awal, kami sudah menguap sebanyak 2 kali.

Ketika teman-teman membaca artikel ini di tempat umum, kemudian teman-teman menguap, ada beberapa orang yang melihat teman-teman menguap juga akan menguap. Begitu seterusnya, begitu ada orang lain yang melihat mereka menguap akan ada rangkaian panjang penularan menguap.

Bukan sekedar penglihatan dan membaca yang dapat menyebabkan kita menguap. Mendengarkan suara orang menguap juga menularkan tanda kantuk ini. Jadi, bisa kita tarik pemahaman bahwa informasi yang diterima oleh panca indra kita telah menanggap menguap sebagai suatu kegiatan yang menular.

 

Kenapa Menguap bisa Menular terjadi?

 

Ilmu pengetahuan mencoba mencari jawaban terkait dengan penularan suatu kondisi yang tidak berdampak terhadap kesehatan ini.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada PLOS One menunjukkan video sekelompok simpanse menguap ketika simpanse lain menguap. Hasil ini menunjukkan bahwa simpanse akan menguap ketika melihat simpanse lainnya menguap. Hal ini mendukung ide bahwa empati terlibat dalam menularnya menguap.

Penelitian lainnya yang juga terbit pada jurnal PLOS One menemukan bahwa penularan pada manusia merupakan suatu respons individual. Terdapat korelasi kecil antara tingkat kecerdasan, waktu, dan empati. Faktor terbesar yang ditemukan terkait dengan proses menguap adalah usia. Lansia lebih sering menguap dibandingkan kelompok usia lainnya.

Empati adalah perasaan atau respons emosional akan emosi yang dirasakan oleh orang lain. Menguap mungkin kita anggap sebagai tanda emosi yang menunjukkan kelelahan fisik atau perasaan bosan. Kemudian, ketika panca indra kita menangkap hal ini, maka respons empati muncul dengan aksi sebagai kegiatan menguap pula. Hal ini yang menjadi teori mengapa menguap sangat menular.

Teori lainnya diajukan oleh Para ahli di University of Nottingham. Mereka telah menerbitkan penelitian yang menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk menguap dan menularkannya dipicu secara otomatis oleh refleks primitif di korteks motorik primer. area otak yang bertanggung jawab untuk fungsi motorik (gerakan tubuh kita).

Hal yang sangat menarik dari temuan penelitian di atas bahwa apabila kita mencoba untuk menahan tidak menguap ketika orang lain kita lihat menguap maka kecenderungan kita untuk menguap akan semakin besar. Namun, sekeras apa pun kita mencoba menahan menguap, hal itu mungkin mengubah cara kita menguap, tetapi tidak akan mengubah kecenderungan kita untuk menguap.

Temuan terpenting dari penelitian tersebut adalah bahwa keinginan untuk menguap atau kecenderungan kita untuk menguap yang menular bersifat individual bagi kita masing-masing. Mungkin saja kita termasuk orang yang bisa menahan diri dari tertular menguap atau sebaliknya kita adalah orang yang paling rentan

Hingga bagian ini, apakah teman-teman sudah menguap? Berapa kali? Apakah teman-teman menghitungnya?

 

Referensi

  1. Campbell MW, De Waal FB. Ingroup-outgroup bias in contagious yawning by chimpanzees supports link to empathy. PloS one. 2011 Apr 6;6(4):e18283.
  2. Individual Variation in Contagious Yawning Susceptibility Is Highly Stable and Largely Unexplained by Empathy or Other Known Factors
  3. Georgina M. Jackson et al. A neural basis for contagious yawning. Current Biology, August 2017 DOI: 10.1016/j.cub.2017.07.062