Puasa Ramadan adalah ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Setidaknya ada enam kriteria orang yang wajib puasa. Dikutip dari kitab Fiqh Sunnah 2 karya Sayyid Sabiq yang diterjemahkan Abu Aulia dan Abu Syauqina, puasa menurut bahasa artinya menahan. Selain kewajiban puasa termaktub dalam QS Al-Baqarah: 183, puasa juga disebutkan dalam Al-Qur’an surah Maryam ayat 26. Yang artinya: “Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar puasa (bicara) untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini’.”

 

Puasa menurut istilah adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, yaitu mulai dari fajar hingga matahari terbenam, dan disertai dengan niat. Secara umum puasa dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan hukum pelaksanaannya, yakni wajib dan sunnah. Salah satu puasa wajib adalah puasa Ramadhan.

 

Semua ulama sepakat hukum puasa Ramadhan adalah wajib. Dalil kewajiban puasa Ramadhan terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 183. Allah SWT berfirman, Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

 

Orang Yang Wajib Puasa

Mengacu pada sumber sebelumnya, ulama telah sepakat bahwa puasa wajib dikerjakan oleh orang Islam, berakal, balig, sehat, dan berada di kampung halaman atau tidak sedang bepergian. Adapun untuk perempuan ditambah lagi satu syarat, yaitu suci dari hadas dan nifas.

Berikut rincian orang yang wajib puasa menurut kesepakatan ulama:

  • Orang Islam
  • Orang berakal
  • – Orang baligh
  • – Orang yang sehat
  • – Orang yang bermukim atau tidak sedang bepergian jauh (musafir), tetapi jika perjalanan itu tidak menyusahkannya maka lebih baik puasa
  • – Orang yang suci dari haid dan nifas

Nb: Dalam fikih, orang yang balig dan berakal disebut mukallaf.

 

Orang Yang Tidak Wajib Puasa

Adapun, puasa tidak wajib bagi orang kafir dan orang gila. Hal ini ada pada hadits yang diriwayatkan Ali RA. Ia mengatakan Rasulullah SAW bersabda,

“Pena (catatan amal diangkat dari tiga orang: (1) orang gila hingga sadar, (2) orang tidur hingga bangun, (3) dan anak kecil hingga telah mimpi basah (balig).” (HR Ibnu Majah)

 

 

Berikutnya, puasa juga tidak diwajibkan bagi anak kecil yang belum memasuki masa akil balig. Akan tetapi, wali atau orang tua seorang anak wajib memerintahkannya untuk berpuasa agar anak tersebut terbiasa melakukannya sedari kecil. Hal ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Rubayyi’ binti Mu’awwidz. Ia berkata, “Pada pagi hari Asyura, Rasulullah mengutus beberapa utusan perkampungan kaum Anshar untuk mengumumkan, ‘Siapa saja yang pada pagi ini berpuasa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya; dan siapa saja yang pada pagi ini berbuka, hendaklah ia berpuasa untuk waktu yang tersisa.’ Setelah itu, kami berpuasa dan memerintahkan anak-anak kecil kami untuk berpuasa. Kami pergi ke masjid dan membuatkan anak-anak itu mainan dari wol. Jika salah seorang di antara mereka menangis karena kelaparan, kami berikan mainan itu kepadanya sehingga (ia tidak jadi menangis) sampai waktu berbuka.”

 

Selain itu orang yang tidak diwajibkan, dan wajib mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan adalah perempuan yang mengalami haidl dan nifas di bulan Ramadlan. Para ulama telah sepakat bahwa hukum nifas dalam hal puasa sama dengan haidl. Dasarnya adalah:

  1. Hadits Nabi Muhammad saw: “Rasulullah saw bersabda: Bukankah wanita itu jika sedang haidl, tidak shalat dan tidak berpuasa? Mereka menjawab: Ya.” (HR. al-Bukhari).
  2. Hadits Nabi Muhammad saw: “Aisyah r.a. berkata: Kami pernah kedatangan hal itu (haid), maka kami diperintahkan mengqadla puasa dan tidak diperintahkan mengqadla shalat.” (HR. Muslim).

 

Orang Yang Diberi Keringanan Dan Orang Yang Boleh Meninggalkan Puasa

  1. Orang yang diberi keringanan (dispensasi) untuk tidak berpuasa, dan wajib mengganti (mengqadla) puasanya di luar bulan Ramadhan:
  2. Orang yang sakit dan sedang bepergian (musafir). Dasarnya adalah:

1) Firman Allah SWT: ٌ Artinya: “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain …” [QS. alBaqarah (2): 184].

2) Sabda Nabi Muhammad saw: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sungguh Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, dan membebaskan pula dari puasa orang hamil dan orang yang menyusui.” (HR. al-Khamsah).

 

Orang yang boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan fidyah 1 mud ( 0,6 kg) atau lebih makanan pokok, untuk setiap hari. a. Orang yang tidak mampu berpuasa, misalnya karena tua dan sebagainya. b. Orang yang sakit menahun. c. Perempuan hamil. d. Perempuan yang menyusui. Dasarnya adalah: Firman Allah SWT: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184).

 

Dari semua penjelasan diatas, penulis menyapa sekaligus bertanya kepada pembaca yang budiman, Apakah Anda maupun keluarga Anda ada di dalam kategori tersebut? Jika iya, jangan lupa untuk mengqadha puasa di bulan setelah Ramadan, dan di luar hari-hari tasyrik ya. Apabila melakukan pembayaran fidyah, jangan sampai melewatkannya, semoga Allah Ta’alaa melimpahkan rezeki penuh berkah untuk kita sekalian. Aamiin Yaa Rabb.

 

Demikian, semoga bermanfaat.

Aekkanopan,

7 Ramadhan 1445 H – 17 Maret 2024 M

Oleh: Rudi Candra Simbolon, S.E.I., M.M

Kepala SD Muhsaka Labura