Hei, apa kabar? Apakah baik baik saja? ūüôā

Seperti intro lagunya Seringai Berhenti di 15 ya..

Seringai adalah salah satu band berisik asal Indonesia yang lumayan konsisten di dunia musik underground …
Ok lah kita tinggalkan dulu Seringai..

 

Kita masuk ke pembahasan sebenarnya..

 

Ramadhan adalah bulan yang sangat di nantikan Ummat Islam di seluruh dunia. Panglimanya bulan ini memang berbeda dengan bulan² yang lain, dibulan yang spesial ini ummat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama 1 bulan lebih, dan pada umumnya ummat muslim lebih mengedepankan ibadah dari pada urusan dunia dibulan ini.

 

Tapi ada beberapa fenomena yang menarik di bulan ini, khususnya di Indonesia, lahir beberapa istilah yang benar² menjadi rutinitas tahunan yang muncul disetiap bulan Ramadhan menghampiri, di antaranya adalah asmara subuh, ngabuburit dan bukber alias buka bareng.

 

Asmara subuh sendiri adalah jalan¬≤ dan nongkrong di pinggir jalan sehabis waktu shalat subuh, kenapa ada kata asmara? Karena tak jarang yg jalan¬≤ itu adalah sepasang sejoli yang lagi pacaran atau ada yang menemukan jodohnya saat ber”asmara subuh”an :D, menarik ya mblo ? Hihihi

 

Lain lagi yang namanya ngabuburit, Ngabuburit adalah kegiatan menunggu adzan maghrib atau tepatnya berbuka puasa, ngabuburit dapat berupa jalan-jalan, bermain, bercengkerama, mencari takjil gratis, mendatangi pasar kuliner atau menghabiskan waktu di taman. Kalau yg ini jujur penulis sangat mengamalkannya setiap bulan Ramadhan ūüėĀ…

 

Nah yang terakhir adalah Bukber atau buka bareng.
Buka bareng ini adalah kegiatan buka puasa bersama² di suatu tempat, bisa dirumah, restoran, cafe dan warung nasi.

 

Biasanya di lakukan bersama teman² kantor, teman² organisasi dan teman² alumni dan tak jarang juga di jadikan ajang reunian..

 

Menjamurnya kedai kopi saat ini dengan ragam konsep¬≤ menarik secara tidak langsung menjadikan pilihan teman¬≤ muslim sebagai tempat berbuka puasa, karena memang kalau dipersentasekan menurut penulis isi dari bukber itu 20% buka puasa 5% tebar pesona 75% kombur malotup (ngobrol) hahaha…

 

Nah you know lah kalau sudah namanya ngobrol paling asik itu pastilah ditemani kopi, selain cafeinnya memberi semangat, kopi juga secara tak langsung mampu membuat kerja otak sedikit lincah, maksudnya ada aja bahan omongan gitu ūüėĀ.

 

Fenomena ini memaksa kedai² kopi gelombang ke 3 berinovasi untuk bisa menghadirkan makanan² berat untuk memenuhi permintaan pasar di Bulan Ramadhan.
Kedai kopi gelombang ke 3 ?
Yups bener kedai kopi gelombang 3

 

Jadi pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters tahun 2002, Trish Rothgeb mendefinisikan ada tiga pergerakan dalam dunia kopi. Ia menyebutnya dengan istilah gelombang atau waves.

 

Gelombang pertama dikenal dengan sebutan First Wave Coffee. Berawal di tahun 1800-an di mana kopi disiapkan untuk harga yang terjangkau dan mudah disajikan. Era ini memusatkan pada inovasi kemasan dan kepraktisan penyajian, yaitu kopi instan.

 

Kopi instan sangat mudah diterima masyarakat karena tak memerlukan alat yang ribet. Bahkan digunakan pula oleh para tentara pada Perang Dunia Pertama tahun 1917 sebagai minuman sehari-hari.

 

Munculnya gelombang kedua atau dikenal dengan Second Wave Coffee ini dikarenakan kopi instan dianggap buruk. Para peminum kopi menginginkan kopi yang nikmat serta pengetahuan tentang apa yang mereka minum itu. Boleh dibilang, gelombang ini merupakan kritik terhadap kopi instan pada gelombang pertama.

 

Era ini bermula tahun 1960-an dan kemudian mulai dikenal istilah-istilah dan sajian-sajian minuman kopi yang baru. Hal ini seiring dengan mulai bermunculan coffee shop yang menawarkan minuman kopi dengan gaya baru, yaitu espresso, latte, cappucino, frapucino, dan lain-lain. Orang-orang yang semula menikmati kopi secara instan di rumah maupun di kantor mulai berpindah ke coffee shop.
Di coffee shop, orang-orang tak hanya datang untuk menikmati kopinya saja. Melainkan juga untuk mengobrol bersama teman terdekat atau membahas masalah pekerjaan.

 

Dan yang terakhir Istilah gelombang ke tiga atau Third Wave Coffee muncul pada awal tahun 2000-an. Kemunculannya bersamaan dengan munculnya istilah First Wave dan Second Wave dalam pemetaan budaya minum kopi masyarakat dunia.

 

Gelombang ketiga atau Third Wave Coffee ini ditandai dengan mulai tertariknya para peminum kopi terhadap perjalanan kopi sejak dipanen hingga tersaji menjadi sebuah minuman. Orang-orang mulai merasa bahwa secangkir kopi memiliki cultural experience yang panjang dan sarat makna. Perjalanan tersebut meliputi di mana asalnya ditanam, proses pengolahan biji, serta cara penyajiannya menjadi sebuah minuman.

Pada fase ini, muncul istilah origin, di mana digunakan sebagai identitas daerah atau kebun tempat jenis kopi tersebut tumbuh. Hal ini dilakukan agar kopi-kopi bisa lebih dikenali secara spesifik karena satu varietas kopi bisa melahirkan varietas dan cita rasa yang berbeda jika ditanam di daerah yang berbeda. Kualitas dan rasa kopi benar-benar diperhatikan secara dalam dan lebih mendetil.

 

Penulis sendiri menganggap fenomena bukber ini sebuah godaan besar, Godaan besar kedai kopi untuk bermutasi menjadi restoran, yang justru menanggalkan konsep kedai kopi itu sendiri.
Kenapa? Karena penulis sendiri adalah pemilik salah satu kedai kopi.
Kejaran kita dalam usaha adalah pasar, dan tak bisa kita pungkiri fenomena itu benar² cuan.

 

Tak sedikit kedai kopi yang bermutasi menjadi resto dengan fenomena ini, ada yg lanjut jadi resto dan ada juga balik menjadi kedai kopi kembali.

 

Ya, kembali ke masing² pemilik kedai kopi sendiri sih, penulis sendiri juga tipe yang tidak terlalu idealis di dunia kopi.

 

Tapi sedikit belajar dari salah satu kedai kopi yang sudah memiliki outlet di seluruh dunia, yaitu Starbuck, yang berdiri tahun 1971 di Pike Place Market di Seattle, Amerika Serikat oleh 3 sekawan antara lain guru Bahasa Inggris Jerry Baldwin, guru Sejarah Zev Siegl, dan penulis Gordon Bowker.

Ilustrasi Gerai Starbuck

Ilustrasi Gerai Starbuck

Saat kedai¬≤ kopi gelombang ketiga sedang menginvasi dunia perkopian, Starbucks sebagai pemimpin era sebelumnya seolah tidak terganggu.¬† Sebaliknya, sebagai senior kedai kopi, Starbucks tergolong cukup ‚Äėrendah hati‚Äô dengan ikut bersolek dan berbenah diri agar tidak ketinggalan¬†trend yang kini sedang menghinggapi para juniornya.

 

Bukan hanya itu saja, yang menarik perhatian penulis terhadap kedai kopi raksasa yang sudah memiliki lebih kurang 17 ribu gerai di seluruh dunia ini adalah kekonsistenan mereka untuk tetap menjadi kedai kopi dan tidak pernah bermutasi menjadi restoran walaupun Starbucks dulunya memang menyediakan kopi untuk kebutuhan restoran.

 

Sedikit menggelitik hati sih, tapi itu semua kembali berpulang kepada teman², kalau penulis sendiri sih tetap bertahan di kedai kopi, bukan masalah idealis atau tidak idealis, ini kembali kepada visi dari pemilik kedai masing², kalau salah satu visi penulis sendiri memang ingin menjadi bagian dari sejarah perjalanan kopi di Indonesia khususnya Daerah asal penulis, nah kalau teman² gimana tanggapannya?

Silahkan tulis di kolom komentar ya ūüėĀ‚ėē